Berbeda Bukan Gagal..!

Bismillah ❀️

Ini, tulisan pertama setalah  huru-hara yang entah kali keberapa.  Efek sampingnya, tulisan menghilang entah kemana. Pun Media fotonya. Kesel ya mbak? Jangan ditanya lagi atuh 🀭

Alhamdulillah, masih menyisakan 200 tulisan. Kemana mereka semua mbak? Dengan kesadaran penuh saya pindahkan ke draf. Insyaa Allah pelan-pelan diperbaiki lagi. πŸ˜‡

Baiklah, mari kita move on saja 😌
Cerita dimulai πŸ˜‰


“Lah iya, wong sarjana kok malah jadi ibu rumah tangga”. Klasik, tapi kritik nomor 1 di Indonesia. Lanjutan nya,  “Apa ya ga sayang sama gelarnya, usaha orang tuanya.  Susah payah di sekolahin malah beranak aja.”  πŸ€­ Padahal nafkah dari suaminya luar biasa. πŸ‘

” Loh kamu bukannya sudah lulus es dua Nduk? Lah ngapain kamu jualan online kek gini? Memangnya penghasilan online bisa diandalkan? Cari kerja sana dikantoran. Gaji yang jelas. Kasihan ibu mu itu lo.”
Padahal penghasilan dari sebar link belanja jauh diatas UMR kotanya, dan Ibu yang dia katain kasihan, sejujurnya baik-baik saja. ☺️

” Kamu ya Mas, jangan kayak Bapak mu. Kuliah ndak tamat. Buru-buru nikah. Sekarang di rumah aja kerjanya. Budhe ini nasehatin kamu. Yang buruk dari Bapak mu jangan ditiru. Yang baik boleh lah diambil. Itupun kalau ada.”  Ghibahin Bapak ke anaknya langsung dong. The real ujaran kebencian gak tuh πŸ˜‚  Padahal Bapaknya sangat bertanggungjawab. Sandang, pangan, papannya Alhamdulillah ada.

Cukup, tiga komentar itu saja yang diambil. Bahwa, sukses kata mereka adalah :
1. Harta berlimpah.
2. Gelar yang keren, makin panjang makin sukses.
3. Kerja harus jelas. Tempat, jabatan, dan gajinya.
4. Memutuskan jadi Ibu rumah tangga yang happy itu salah.

Selain dari pandangan itu, semua gagal..! 

Sedangkan di jendela lain. Masih menemukan pemandangan lainnya.

“Ayah Ibunya kan dokter ya. Kok anak nya malah  di masukin pesantren. Tahfidz pula.”  Komentar yang seolah menyayangkan. Namun, itulah cita-cita orang tuanya. Ingin sekali anaknya hafal quran. Bisa sholat dengan benar. Beradab, dan menggali ilmu agama. Ditambah anaknya dengan sukarela menjalani semua itu.

“Itu kan anak Bungsunya. Kakak nya semua sukses di luar negeri. Tapi dia malah milih dirumah saja nemenin Ibunya. Padahal dia juga sekolahnya pinter. Mbok ya cari pengalaman. Soal Ibunya kan bisa di carikan perawat.”  😰 kalau yang komentar di gituin anaknya gimana ya? Naudzubillah. 

” Kalau saya nih, dinafkahi suami itu emang wajib. Tapi punya duit sendiri itu prinsip. Ya ga mau saya cuma minta duit suami doang. ” 😌 Menghela nafas panjang. Padahal suami dan istri sudah sepakat. Tentang perputaran roda perekonomian dalam rumah tangga mereka.

Well, sukses menurut jendela ini adalah :
1. Mempunyai keturunan yang sholih sholihah. Penyejuk mata, dunia dan akhirat. Serta senantiasa berbuat baik kepada Ibu Bapaknya.
2. Paham ilmu agama, karena satu-satunya warisan yang menurut orangtua penting adalah ilmu. Yang lainnya bonus.
3. Menjadi istri yang taat kepada Allah dan Suami adalah kesuksesan bagi beberapa perempuan. Jangan dikit-dikit nyebut “patriarki”  ya 😌

Mungkin definisi sukses kita berbeda satu sama lain.

Yah, berbeda bukan gagal..!
Kalau standart sukses adalah sesuatu yang berhubungan dengan materi yang berangka. Maka sudah pasti gaji setiap orang akan menjadi perbandingan sukses dan gagal.

Mereka yang gaji besar akan dianggap lebih sukses dibanding mereka yang nominal gajinya berubah setiap bulan.

Mereka yang punya seragam dan kendaraan bagus lebih sukses dibanding mereka yang berusaha dan merasa cukup dengan apa yang dipunyai. Walau tidak mentereng.

Mereka yang punya usaha besar dengan modal investor lebih sukses. Dibanding dengan pelaku UMKM dengan modal seadanya.

Dari semua hal itu, ada hal yang di sepakati “pasti sukses” walau tidak diatas materi, jabatan, dan angka fantastis. Yakni “ketaatan kita kepada aturan dan agama Allah”.

Mau rumah sebesar apapun, harta sebanyak-banyaknya. Kendaraan semewah apapun. Bahkan jabatan sekuasa apapun. Semua akan tertunduk. Jika tidak paham cara taat kepada Allah. Tidak beradab dan beretika. Tidak berkah dalam berharta. Dan amanah saat berkuasa.

Berpendidikan tinggi sangat dianjurkan. Karena ilmu adalah bekal seumur hidup. Siapapun boleh merajut status sosial yang diinginkan.

Lepas kuliah, wisuda. Jadi dokter boleh..!

Jadi manager sebuah perusahaan, boleh..!

Jadi aparat negara, silahkan..!

Jadi Ibu rumah tangga, sok. Yang bahagia..!

Jadi apapun subjek dunia ini, boleh..!

Namun, jangan lebeli standar sukses dengan pola pikir kita yang sempit. Yang semua hal harus ikut apa kata ekspektasi manusia. 😊 Karena jalan kita berbeda.

“Semoga Sukses ya..!”  ☺️
Semoga ini tetap menjadi doa yang tulus.  🫢

2 thoughts on “Berbeda Bukan Gagal..!

  1. dari komentar-komentar mereka, udah tau kan kenapa harus sekolah tinggi😸
    let them say anything, just chill, let it gone by the wind.
    aku yg skrg irt ‘nyambi’ juga mulai switch energi ke ‘sekedarnya’ aja dan lebih memilih ‘nyender’ rejeki biar dpt dari suami aja. Klo bisa terima penuh dari suami, why not.

    1. @ Mama Mery Cantik

      Cakep banget sih ini Ma 🫢❀️
      Sebetulnya tidak ada yang sia-sia. Mau ke arah mana saja yang terpenting bermanfaat dan happy ya ma 😍

Tinggalkan Balasan ke Mama mery cantik Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *